Berbagai Jenis Gangguan Makan pada Anak dan Remaja
Gangguan makan adalah suatu penyakit yang sering diderita pada anak dan remaja. Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun dari beberapa penelitian yang dilakukan dugaan utama tertuju pada faktor psikologis. Di samping itu muncul pula dugaan faktor biologis, yang mencakup genetis, pubertas, dan obesitas, sebagai faktor lain penyebab gangguan ini terjadi (“Nanti Aku”, 2005).
Anorexia nervosa dalam Bahasa Indonesia biasanya tertulis dengan anoreksia nervosa. Anoreksia berarti tidak nafsu makan, dan nervosa berhubungan dengan cemas (Deni & Lestari, 2009). Jadi, anoreksia nervosa dapat berarti juga kelainan emosional atau penyakit mental yang menyebabkan tidak nafsu makan. Penderita anoreksia nervosa, yang kebanyakan adalah remaja putri usia 18-30 tahun, cenderung akan menolak untuk makan karena mental mereka telah terbentuk bahwa tingkat kecantikan seseorang diukur dari bentuk tubuh yang ideal. Biasanya penderita akan merasa sangat tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya, dan takut tidak diterima oleh lingkungannya. Oleh sebab itu, penderita akan memaksakan dirinya untuk menjadi kurus dan memiliki bentuk tubuh ideal.
Berbeda dengan anoreksia nervosa, penderita gangguan bulimia nervosa justru akan kehilangan kendali untuk makan. Perbedaan lainnya yang mengkhawatirkan adalah setelah penderita menyantap makanannya, penderita akan berusaha memuntahkan kembali apa yang telah ia makan. Hal lain yang mungkin dilakukan penderita adalah melakukan diet ketat atau olahraga secara berlebihan tanpa memperdulikan kesehatannya (“Bulimia Nervosa”, t. th). Tidak diketahui secara jelas pemicu munculnya gangguan ini, namun sama halnya dengan anoreksia nervosa, kekhawatiran akan bentuk tubuh yang ideal diduga menjadi faktor utama seorang remaja mengalami gangguan ini.
Gangguan makan pica biasanya terjadi pada anak balita. Hal ini terjadi karena anak balita suka sekali memasukkan atau menggigit benda ke dalam mulutnya. Menurut Zen (2009), ada dua jenis gangguan makan pica pada anak. Yang pertama adalah memakan benda mati, seperti obat nyamuk, tanah liat, sabun, abu, rumput, tanah, dan batu. Sedangkan yang kedua adalah benda yang terlihat seperti makanan atau bahan makanan, misalnya es batu, kentang mentah, tepung terigu, biji buah, garam, bahkan darah. Anak penderita gangguan pica, terutama gangguan pica pertama, akan terancam penyakit yang cukup berbahaya. Bayangkan jika anak memakan obat nyamuk. Obat nyamuk merupakan benda mati yang mengandung insektisida dan jika anak mengkonsumsinya secara terus menerus anak dapat menderita penyakit kanker.
Pada dasarnya gangguan makan pada anak dan remaja bisa disembuhkan dengan jalan terapi. Seperti halnya jika anak menderita gangguan pica, terapi yang dapat dilakukan adalah dengan memberitahu perbedaan antara makanan yang boleh dimakan ataupun tidak. Penderita anoreksia nervosa dan bulimia nervosa pun dapat melakukan terapi psikis atau psikoterapi. Walaupun demikian, akan lebih baik jika orangtua dapat memberi informasi kepada anak mereka mengenai gangguan makan beserta akibatnya, agar anak dapat mengetahui dampak buruk dari penyakit gangguan makan.
Daftar Pustaka
Bulimia Nervosa. (t.th). medicastore, hlm1.
Deni, E & Lestari,
Nanti Aku Kayak Yeti, Gimana. (2005). Parentsguide, hlm1.
Zen, Avizena E. (2009, 26 Agustus). Pica, Kelainan Makan pada Balita. Kabarindonesia, hlm1.

0 komentar:
Posting Komentar